Proses Penjadwalan CPU

  1. Berubah dari runnning state ke ready state
  2. Berubah dari waiting state ke ready state
  3. Berubah dari running state ke waiting state
  4. Terminate

Penjadwalan Preemptive

  1. proses yang memiliki Burst M/K yang sangat lama disebut I/O Bound.
  2. proses yang memiliki Burst CPU yang sangat lama disebut CPU Bound.

Penjadwalan Non Preemptive

  1. Berjalan dari running state sampai waiting state.
  2. Dihentikan.

Kriteria Penjadwalan

  1. CPU utilization. Diharapkan agar CPU selalu dalam keadaan sibuk. Utilitas CPU dinyatakan dalam bentuk prosen yaitu 0–100%. Namun dalam kenyataannya hanya berkisar antara 40–90%.
  2. Throughput. Adalah banyaknya proses yang selesai dikerjakan dalam satu satuan waktu.
  3. Turnaround time. Banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengeksekusi proses, dari mulai menunggu untuk meminta tempat di memori utama, menunggu di ready queue, eksekusi oleh CPU, dan mengerjakan I/O.
  4. Waiting time. Waktu yang diperlukan oleh suatu proses untuk menunggu di ready queue. Waiting time ini tidak mempengaruhi eksekusi proses dan penggunaan I/O.
  5. Response time. Waktu yang dibutuhkan oleh suatu proses dari minta dilayani hingga ada respon pertama yang menanggapi permintaan tersebut.
  6. Fairness. Meyakinkan bahwa tiap-tiap proses akan mendapatkan pembagian waktu penggunaan CPU secara terbuka (fair).

Algoritma Penjadwalan

  1. First-Come First-Served Scheduling (FCFS)
  2. Shortest Job First Scheduler (SJF)
  3. Priority Scheduling
  4. Round-Robin Scheduling

First-Come First-Served Scheduling (FCFS)

  • Waiting Time rata-ratanya cukup lama.
  • Terjadinya Convoy Effect, yaitu proses-proses menunggu lama untuk menunggu 1 proses besar yang sedang dieksekusi CPU.

Shortest Job First Scheduler (SJF)

Langkah-langkah Menghitung Algoritma Shortest Job First

  • Membuat Gantt Chart

Kelebihan dan Kekurangan

  • Memberikan minimum waiting time untuk kumpulan proses yang mengantri.
  • Penjadwalan SJF mempunyaI efiesiensi tinggi dan turn around time rendah.
  • Tidak bisa memprediksi burst time proses yang akan dieksekusi selanjutnya.
  • Proses yang mempunyai burst time lebih banyak akan mempunyai waiting time yang lebih besar karena yang dieksekusi terlebih dahulu adalah yang mempunyai burst time lebih sedikit.

Algoritma Preemptive

Algoritma Non Preemptive

Priority Scheduling

  • Time limit
  • Memory requirement
  • Akses file
  • Perbandingan antara I/O Burst dengan CPU Burst
  • Tingkat kepentingan proses
  • Priority Scheduling preemptive
  • Priority Scheduling non-preemptive

Round-Robin Scheduling

  1. Algoritma yang paling simpel.
  2. Memiliki overhead yang kecil, jika ukuran proses lebih kecil dibanding slot waktunya
  3. Mencegah terjadinya kondisi deadlock atau starvision
  1. Waktu tunggu sangat lama untuk proses besar
  2. Sering terjadi convoy effect
  3. Jika slot waktunya terlalu kecil , maka sebagian proses tidak bisa diselesaikan oleh satu slot waktu saja.

Ketentuan Penjadwalan Round-Robin

  1. Jika Quantum habis dan proses belum selesai maka proses running itu menjadi ready dan pemrosesan dialihkan ke proses lain,
  2. Jika Quantum belum habis dan proses menunggu suatu kejadian (misal menunggu selesainya suatu operasi I/O), maka proses running itu menjadi blocked dan proses dialihkan ke proses lain.
  3. Dan jika Quantum belum habis tapi proses telah selesai maka proses running itu diakhiri dan pemprosesan dialihkan ke proses lain.

--

--

Interested and learn about programming, web development, and machine learning

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Agung Prabowo

Agung Prabowo

Interested and learn about programming, web development, and machine learning